KabarOto.com - Penerapan kebijakan bahan bakar campuran minyak nabati seperti Biosolar B50 di Indonesia terus menjadi topik perbincangan hangat di kalangan pecinta dan pengguna kendaraan diesel.
Banyak pihak mempertanyakan sejauh mana bahan bakar ini kompatibel dengan berbagai karakteristik mesin, baik mesin diesel generasi lama maupun mesin diesel modern berteknologi tinggi.
"Kekhawatiran utama para pengguna umumnya bermuara pada kadar sulfur yang tinggi serta potensi pembentukan jelaga dari unsur minyak nabati yang dapat memicu masalah teknis pada komponen vital mesin," ujar Aong Ulinnuha selaku Manager ABS Diesel.
Baca Juga: Tentang Reamer Karburator, Cari Efisiensi dan Performa Optimal
Diesel Konvensional
Ia bilang, untuk jenis mesin diesel konvensional atau generasi lama, seperti yang tertanam pada Isuzu Panther maupun Mitsubishi Kuda, penggunaan biosolar relatif tidak mengalami kendala yang berarti.
"Mesin-mesin tua ini memiliki konstruksi injektor dengan lubang (nozzle) yang lebih besar, sehingga sirkulasi bahan bakar dapat berjalan lancar tanpa risiko penyumbatan yang signifikan. Karakteristik mesin yang lebih toleran ini membuat kendaraan diesel lama tetap aman dan direkomendasikan menggunakan bahan bakar biosolar tanpa memerlukan penyesuaian teknis yang rumit," katanya.
Sementara itu, untuk mesin diesel modern berstandar emisi Euro 4 ke atas, kekhawatiran penyumbatan pada sistem common-rail dan injektor yang sangat presisi menjadi perhatian utama.
"Meski demikian, pengujian lapangan sejauh puluhan ribu kilometer pada SUV populer seperti Toyota Fortuner dan Mitsubishi Pajero Sport menunjukkan bahwa mesin modern sebenarnya masih mampu beradaptasi dengan B50. Uji jalan ini membuktikan bahwa kendaraan berteknologi baru tetap memiliki daya tahan yang memadai saat dipacu menggunakan bahan bakar campuran nabati tersebut," kata Aong.
Baca Juga: Bukan Daya Kuda Atau Torsi Besar, Ini Penentu Performa Mesin Baik
Tinggalkan Deposit
Meski terbukti kompatibel, sifat dasar minyak nabati yang pembakarannya kurang sempurna tetap berpotensi meninggalkan deposit atau jelaga ekstra pada sistem pembakaran.
Dampak yang paling sering dirasakan oleh pemilik kendaraan adalah filter solar yang jauh lebih cepat kotor dan menghitam dibandingkan jika menggunakan bahan bakar diesel murni. Kadar sulfur yang masih tergolong tinggi juga memperbesar risiko penumpukan kotoran jika sistem penyaringan dan perawatan berkala tidak diperhatikan secara serius.
Sebagai langkah antisipasi, penggunaan aditif bahan bakar tambahan yang beredar di pasaran menjadi salah satu solusi efektif yang kerap direkomendasikan. Penggunaan aditif ini mampu membantu pembersihan saluran bahan bakar, meningkatkan efisiensi pembakaran, serta menjaga kondisi filter minyak agar tetap bersih.
Hasilnya, performa mesin diesel yang mengonsumsi B50 dengan campuran aditif dapat mendekati kualitas pembakaran bahan bakar diesel nonsubsidi beroktan/setana tinggi seperti Pertadex.

