Berlaku 1 Juli 2026, Pahami Arti Biosolar B50 dan dan Efeknya pada Kendaraan Diesel

Dian Tami Kosasih
Dian Tami Kosasih
Sabtu, 20 Juni 2026
Berlaku 1 Juli 2026, Pahami Arti Biosolar B50 dan dan Efeknya pada Kendaraan Diesel

Pahami Arti Biosolar B50 dan dan Efeknya pada Kendaraan Diesel

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KabarOto.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menetapkan implementasi biodiesel B50 secara nasional, mulai 1 Juli 2026. Kebijakan ini merupakan kelanjutan daric program B35 dan B40 yang telah berjalan sebelumnya.

Bagi pemilik kendaraan diesel, memahami arti dari kode bahan bakar ini sangat penting karena berkaitan langsung dengan karakteristik cairan yang masuk ke dalam ruang bakar mesin.

Baca Juga: Hasil Uji Jalan Dinilai Aman, Biodiesel B50 Berlaku Mulai Juli 2026

Secara harfiah, nama Biosolar B50 merupakan gabungan dari tiga unsur kata yang menjelaskan asal-usul dan kandungan di dalamnya:

  • Bio: Tanda bahan bakar ini memiliki kandungan hayati atau nabati. Di Indonesia, unsur bio murni berasal dari minyak kelapa sawit mentah (CPO) yang telah diolah melalui proses esterifikasi menjadi Fatty Acid Methyl Ester (FAME).
  • Solar: Merupakan sebutan akrab masyarakat Indonesia untuk petrodiesel, yaitu bahan bakar mesin diesel yang berasal dari hasil penyulingan minyak bumi fosil.
  • B50: Huruf B merupakan singkatan dari Biodiesel, sementara angka 50 merujuk pada persentase kadar campuran bahan nabati tersebut.

Dengan kata lain, Biosolar B50 adalah bahan bakar diesel yang terdiri dari 50% minyak nabati (sawit) dan 50% solar murni. Artinya, dalam setiap satu liter B50, setengah volumenya adalah minyak nabati hasil bumi, dan setengahnya lagi merupakan minyak fosil.

Langkah agresif ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan porsi campuran bahan bakar nabati tertinggi di dunia.

Hasil Uji Teknis dan Kesiapan Mesin

Sebelum resmi dikomersialkan, Kementerian ESDM bersama pihak terkait telah melakukan uji jalan dan uji teknis secara serentak sejak Desember 2025. Pengujian ini menyasar enam sektor utama, yakni otomotif, pertambangan, kereta api, perkapalan, alat pertanian, serta pembangkit listrik.

Berdasarkan hasil uji coba tersebut, karakteristik teknis B50 dinyatakan aman untuk digunakan pada mesin diesel modern maupun alat berat. Kendati demikian, tercatat adanya sedikit penyesuaian fungsional di lapangan:

Sifat Detergensi (Pembersih): Karakteristik bawaan FAME memiliki sifat melarutkan kotoran atau endapan di dalam tangki bahan bakar. Bagi kendaraan lama yang baru beralih ke B50, kotoran yang rontok berpotensi membuat filter bahan bakar lebih cepat jenuh pada masa awal pemakaian.

Baca Juga: 40.000 Km Uji Jalan Biodiesel B50, Ini Laporan Mitsubishi Fuso dan Hino

Konsumsi Bahan Bakar: Karena nilai kalor biodiesel sedikit lebih rendah dari solar murni, data uji coba pada sektor alat berat menunjukkan adanya kenaikan konsumsi bahan bakar sekitar 3,12%. Namun, angka ini dinilai masih dalam batas wajar dan tidak mengganggu produktivitas mesin secara signifikan.

Imbauan Perawatan untuk Pemilik Kendaraan

Menyambut implementasi 1 Juli mendatang, pemerintah mengimbau pemilik kendaraan diesel dan pengusaha armada untuk lebih memperhatikan jadwal perawatan berkala.

Para pengguna disarankan melakukan pengecekan kondisi filter solar dan kebersihan tangki penyimpanan bahan bakar secara rutin pada fase awal transisi guna menghindari risiko penyumbatan, sehingga performa mesin tetap optimal di lapangan.

Tags:

#Biodiesel B50 #Biodiesel #Mesin Diesel

Bagikan

Berita Terkait

Bagikan