KabarOto.com - Exhaust Gas Recirculation atau EGR merupakan teknologi emisi yang berfungsi melakukan resirkulasi sebagian gas buang kembali ke dalam ruang bakar mesin. Prinsip kerjanya berfokus pada penurunan suhu puncak pembakaran di dalam silinder.
Dengan memasukkan kembali gas buang yang bersifat inert (tidak mudah terbakar) bersama udara segar, konsentrasi oksigen berkurang dan temperatur pembakaran dapat dikendalikan agar tidak terlalu tinggi. Tujuan utama dari penerapan EGR adalah mengurangi pembentukan gas berbahaya Nitrogen Oksida,
kata Shendy dari Curb Motorsport.
Baca juga:
Begini Cara Kerja Valvetronic Exhaust Aftermarket

Daftar Isi
Reaksi Kimia
Daftar Isi
Reaksi itu terbentuk ketika nitrogen dan oksigen di udara bereaksi pada suhu sangat tinggi. Karena gas sisa pembakaran menyerap panas tanpa ikut terbakar kembali, EGR secara efektif menekan suhu puncak tersebut sehingga emisi yang keluar dari knalpot dapat diturunkan secara signifikan demi memenuhi standar emisi modern.
Sistem EGR dapat ditemukan pada mesin diesel maupun mesin bensin, meski peran dan dampaknya sedikit berbeda.
Pada mesin diesel, EGR bekerja cukup masif karena karakteristik pembakaran diesel yang menghasilkan emisi tinggi. Sementara pada mesin bensin, selain menekan emisi, aliran EGR pada beban parsial (part-load) juga membantu mengurangi kerugian pemompaan (pumping losses) pada katup kupu-kupu (throttle body), yang berdampak positif pada efisiensi bahan bakar,
bebernya.
Komponen utama sistem ini adalah katup EGR (EGR Valve) yang diatur oleh unit kontrol mesin (ECU). ECU menentukan kapan katup harus membuka atau menutup berdasarkan parameter seperti putaran mesin (RPM), beban mesin, dan suhu cairan pendingin.
Pada kondisi idle (stationer) atau saat pedal gas diinjak penuh (full throttle), katup EGR biasanya akan menutup rapat agar stabilitas pembakaran dan tenaga puncak mesin tidak terganggu.
Baca Juga: Deteksi Penyakit Mobil dari Asap Knalpot, Begini Caranya
Penumpukan Kerak Karbon
Seiring pemakaian, EGR rentan terhadap penumpukan kerak karbon, terutama pada mesin diesel yang menghasilkan jelaga (soot). Karbon dan residu oli yang mengendap pada saluran katup EGR serta intake manifold dapat menyebabkan katup tersumbat atau macet.
Gejala katup EGR bermasalah meliputi mesin terasa tersendat saat diakselerasi, stasioner tidak stabil, asap knalpot lebih pekat, hingga munculnya peringatan Check Engine di panel instrumen.
Perawatan sistem EGR umumnya dilakukan melalui pembersihan berkala pada komponen katup dan saluran udara intake. Penggunaan bahan bakar berkualitas dengan kandungan sulfur rendah serta oli mesin yang sesuai sangat membantu menekan laju pembentukan kerak karbon.
Dengan sistem EGR yang bersih dan berfungsi optimal, kendaraan tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga menjaga performa serta efisiensi mesin tetap terjaga.
