KabarOto.com - Kecelakaan beruntun marak menghiasi pemberitaan dan media sosial, seperti insiden di Tol Dalam Kota Jakarta baru-baru ini yang memicu kemacetan panjang. Berbagai faktor menjadi pemicu utama kecelakaan jenis ini.
Baca Juga: Saran Instruktur Senior Ketika Berkendara di Tengah Abu Vulkanik
Daftar Isi
Defensive Driving
Daftar Isi
Penerapan pola mengemudi defensif (defensive driving) menjadi hal mutlak bagi setiap pengemudi untuk menekan risiko di jalan raya,
kata Jusri Pulubuhu selaku Founder & Lead Instructor Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC).
Secara umum, potensi tabrakan beruntun kerap bersumber dari kelalaian pengemudi itu sendiri. Kebiasaan menjadi lane hogger atau melaju lambat di lajur kanan, serta memacu kendaraan di bahu jalan tol yang seharusnya diperuntukkan bagi situasi darurat sering kali memicu manuver berbahaya.
Baca Juga: Masih Bandel Main HP Sambil Berkendara, Dengarkan Kata Instruktur
Risiko Makin Parah
Risiko ini kian diperparah oleh kebiasaan mengabaikan jarak aman, ugal-ugalan, hingga melanggar aturan lalu lintas seperti batas kecepatan dan pengoperasian lampu sein. Di samping itu, teralihnya fokus akibat penggunaan ponsel, kondisi mengantuk, serta membiarkan komponen penting seperti lampu rem mati, membuat kendaraan di belakang gagal mengantisipasi kondisi darurat secara tepat waktu,
lanjut Jusri Pulubuhu.
Untuk mencegah terjadinya kecelakaan beruntun, pengemudi perlu konsisten menerapkan langkah-langkah pencegahan. Jaga jarak aman dengan teknik tiga detik guna memberikan ruang tanggap saat harus mengerem mendadak.
Selalu patuhi batas kecepatan serta peruntukan lajur, termasuk segera kembali ke lajur tengah atau kiri setelah mendahului agar tidak menghambat laju kendaraan lain. Terakhir, pastikan fokus tetap terjaga dengan menghindari distraksi ponsel, rutin mengecek spion secara berkala untuk memantau situasi sekitar, serta memastikan seluruh sistem penerangan kendaraan berfungsi secara optimal,
tutup Jusri Pulubuhu.

