KabarOto.com - Stator core merupakan salah satu komponen utama dalam rangkaian magnetik motor listrik. Ketika motor beroperasi, perubahan medan magnet pada stator menghasilkan iron loss, yaitu energi yang hilang dan berubah menjadi panas.
Pada motor dengan kecepatan putar dan frekuensi operasi yang semakin tinggi, pengendalian iron loss menjadi semakin penting untuk mempertahankan efisiensi sistem penggerak.
Baca Juga: Begini Serba-serbi Kabel Bodi Pada Kendaraan Kesayanganmu
Tantangan Amorphous Alloy di Mobil Listrik
GAC mengembangkan solusi melalui penggunaan amorphous alloy, material dengan struktur atom tidak beraturan, diklaim memiliki karakteristik magnetic permeability tinggi dan iron loss yang sangat rendah.
Material ini sebelumnya lebih banyak digunakan dalam aplikasi berteknologi tinggi seperti industri dirgantara, pertahanan, dan transformator tegangan ekstra tinggi.
Namun, pihaknya mengakui membawa material amorphous ke dalam sistem penggerak kendaraan listrik bukanlah proses sederhana. Material tersebut memiliki karakteristik yang sangat tipis, keras, dan rapuh sehingga memiliki tantangan tinggi dalam proses pembentukan, pemotongan, serta penyusunan menjadi stator core yang dapat diproduksi secara konsisten dalam skala otomotif.
Melalui pengembangan teknologi manufaktur bersama mitra industri, GAC berhasil mengolah amorphous ribbon dengan ketebalan hanya 25 mikron atau 0,025 mm, sekitar seperlima dari ketebalan ultra-thin silicon steel konvensional.
Material tersebut memiliki saturation magnetic induction hingga 1,68 Tesla dan unit iron loss sebesar 5,7 W/kg, atau sekitar 50% lebih rendah dibandingkan ultra-thin silicon steel.
Tantangan berikutnya adalah mengubah material yang sangat tipis dan rapuh tersebut menjadi komponen yang mampu memenuhi tuntutan produksi otomotif. Untuk menjawab tantangan tersebut, GAC mengembangkan rangkaian proses manufaktur yang mencakup multi-layer compounding, precision stamping, lamination, Vacuum Pressure Impregnation (VPI), hingga drying.
Melalui teknologi multi-layer uniform-thickness compounding, material amorphous setebal 25 mikron dapat diproses secara stabil menjadi material dengan ketebalan sekitar 0,15 mm yang sesuai dengan kebutuhan proses manufaktur.
Baca Juga: Serba Serbi Aki Baterai Kendaraan, Bijak dalam Memilihnya
Teknologi High-speed Precision Stamping
Sementara itu, teknologi high-speed precision stamping yang dikembangkan GAC mampu mencapai kecepatan hingga 200 strokes per minute. Proses pressure-vibration coordinated lamination juga menghasilkan stacking factor stator core lebih dari 92%, sekaligus membantu menjaga kepadatan, konsistensi dimensi, dan keandalan struktur komponen.
Hasil dari inovasi material dan proses manufaktur tersebut kemudian diterapkan pada GAC Quark Electric Drive 2.0 Amorphous-Carbon Fiber Super Electric Drive, yang mengkombinasikan stator berbasis amorphous alloy dengan teknologi rotor berbasis carbon fiber.
Berdasarkan pengujian yang disertifikasi oleh China Automotive Engineering Research Institute (CAERI) pada 2025, motor dengan teknologi amorphous stator tersebut mencatat peak efficiency sebesar 99,03%, berdasarkan kondisi pengujian dengan temperatur inlet coolant 35±2°C dan tegangan DC bus 740 V. Sementara itu, sistem electric drive mencatat CLTC operating efficiency sebesar 94,184%.
Teknologi Quark Electric Drive 2.0 dengan stator berbasis amorphous alloy saat ini telah diterapkan pada sejumlah kendaraan listrik GAC, termasuk AION N60, 2027 AION RT, dan 2027 AION i60.

