KabarOto.com - Dunia balap ketahanan internasional mencatat sejarah besar ketika FIA dan ACO (Automobile Club de l'Ouest) memperkenalkan kelas LMDh (Le Mans Daytona hybrid).
Langkah ini diambil sebagai solusi atas berakhirnya era LMP1 yang berbiaya sangat tinggi, sekaligus menjadi jembatan "konvergensi" yang memungkinkan mobil yang sama bertanding di dua kejuaraan terbesar yakni FIA World Endurance Championship (WEC) di Eropa dan IMSA WeatherTech SportsCar Championship di Amerika Serikat.
Sejarah LMDh dimulai pada awal 2020, saat pengumuman bersama di Daytona mengonfirmasi bahwa pabrikan otomotif kini dapat membangun mobil dengan biaya lebih terkendali namun tetap memiliki identitas visual yang kuat.
Baca Juga: Toyota Racing Sudah Siapkan TR010 Hybrid Terbaru untuk WEC 2026
Berbeda dengan kelas LMH (Le Mans Hypercar) di mana pabrikan membangun seluruh mobil secara mandiri, LMDh menggunakan pendekatan sistem hybrid standar yang membuat kompetisi menjadi lebih inklusif bagi banyak manufaktur seperti Porsche, BMW, Cadillac, dan Lamborghini.
Inti dari regulasi LMDh adalah keseimbangan antara performa mesin pembakaran internal (ICE) dan sistem elektrik. Berdasarkan aturan terbaru yang berlaku hingga musim 2026, total output gabungan dari sistem penggerak ini dibatasi secara ketat untuk menjaga persaingan yang adil (Balance of Performance).
Salah satu keunikan LMDh adalah penggunaan sistem hybrid standar. Semua mobil LMDh wajib menggunakan unit motor listrik (MGU) dari Bosch, sistem baterai dari Williams Advanced Engineering, dan transmisi dari Xtrac.
Sistem ini diletakkan pada gandar belakang (rear-axle), berbeda dengan beberapa mobil LMH yang menempatkan sistem hibrida di gandar depan untuk penggerak empat roda.
Dalam hal struktur, pabrikan LMDh diharuskan memilih satu dari empat konstruktor sasis yang telah disetujui di antaranya Dallara, Ligier, Multimatic, atau Oreca.
Baca Juga: Genesis Magma Racing GMR-001, Hypercar Korea Pertama Siap Guncang FIA WEC 2026
Meskipun sasis dasarnya standar, pabrikan diberikan kebebasan penuh untuk mendesain bodi luar agar menyerupai karakteristik mobil jalan raya mereka, serta bebas mengembangkan mesin pembakaran internal mereka sendiri.
Mulai musim 2026, regulasi teknis semakin diperketat dalam hal keberlanjutan. Penggunaan bahan bakar terbarukan 100% menjadi kewajiban, sejalan dengan visi WEC untuk mencapai netralitas karbon.
Selain itu, sinkronisasi aturan aerodinamika antara LMDh dan LMH terus dilakukan agar kedua sub-kelas ini dapat bertarung memperebutkan gelar juara umum di Le Mans tanpa ada salah satu pihak yang dirugikan secara teknis.