KabarOto.com - Di kalangan pecinta dan pemilik mobil diesel modern, praktik modifikasi dengan menonaktifkan atau menutup Exhaust Gas Recirculation (EGR) sering kali menjadi bahan perbincangan hangat.
Banyak pengguna mempertanyakan apakah mematikan sistem EGR direkomendasikan untuk penggunaan harian. Menanggapi hal tersebut, Manager ABS Diesel, Aong Ulinnuha, mengungkapkan fakta menarik bahwa sebagian mobil bermesin common rail rakitan lokal sejatinya sudah memiliki kustomisasi sistem EGR dari pabriknya.
Baca Juga: Modifikasi Yamaha XSR Lady Bikers Doyan Touring, Yuk Intip
Prinsip Pabrikan
Aong menjelaskan bahwa pada beberapa model mobil diesel produksi pabrikan, katup EGR tidak selalu aktif bekerja secara penuh.
Katup EGR umumnya hanya terbuka pada kondisi tertentu, seperti saat mesin dalam keadaan langsam (idle) yang memang tidak membutuhkan daya (power) besar, atau ketika pengemudi melepas pedal gas (deselerasi) untuk membantu proses engine brake.
Pada momen deselerasi tersebut, EGR justru sengaja dibuka untuk mengurangi pasokan daya mesin secara efisien.
Pada beberapa varian kendaraan bermesin diesel keluaran tahun 2016 hingga 2017, seperti Innova, Fortuner (VRZ), hingga Pajero Sport generasi sebelum 2016. Pada unit-unit tersebut, sistem EGR bawaan pabrik sering kali diset tidak aktif saat mobil dipacu atau membutuhkan performa. Keaktifan EGR yang terbatas pada kondisi idle dan deselerasi ini menunjukkan bahwa pabrikan pun mempertimbangkan efisiensi daya mesin dalam pengaturan sistem emisi mereka,
jelasnya.
Secara teknis, fungsi utama dari pembacaan dan kinerja EGR adalah untuk menekan kadar emisi Nitrogen Oksida (NOx), yang umumnya sangat dibutuhkan di negara-negara dengan regulasi ketat seperti standar Euro 3 atau Euro 4. Namun, situasi di Indonesia cukup unik karena penerapan standar emisi Euro 2 berlangsung cukup lama hingga sekitar tahun 2020.
Menurut Aong, pada standar Euro 2, penutupan EGR sebenarnya masih aman dan mampu memenuhi ambang batas emisi yang ditetapkan secara nasional.
Baca Juga: Pemahaman Tentang Serba-serbi Diesel Purging Menurut Ahlinya
Penumpukan Kerak
Karakteristik bahan bakar diesel yang tersedia di pasaran, seperti kandungan sulfur pada Biosolar, juga menjadi faktor krusial yang perlu dipertimbangkan.
Penggunaan bahan bakar dengan kandungan sulfur tinggi pada mesin berketingkat emisi tinggi yang EGR-nya terus aktif dapat menyebabkan penumpukan kerak karbon berlebih pada saluran intake.
Oleh karena itu, bagi pengguna yang ingin menjaga kebersihan komponen dalam mesin serta performa yang lebih optimal, menyesuaikan kerja EGR agar sejalan dengan karakteristik bahan bakar adalah langkah yang rasional.
Aong menyimpulkan bahwa jika pemilik kendaraan masih mengandalkan bahan bakar jenis Biosolar untuk penggunaan harian, mengembalikan atau menyesuaikan setelan mesin seperti standar Euro 2 termasuk menonaktifkan EGR, dapat menjadi solusi agar mesin lebih awet dan terjaga kebersihannya.
Langkah ini tidak hanya membantu menjaga durabilitas komponen internal mesin diesel dari penumpukan jelaga, tetapi juga memberikan ketenangan bagi pemilik dalam perawatan jangka panjang.

