KabarOto.com - Pasar otomotif Indonesia sedang mengalami perubahan besar. Jika beberapa tahun lalu mobil bermesin bensin masih menjadi pilihan utama tanpa ada pesaing, kini kendaraan elektrifikasi mulai mengambil alih perhatian konsumen. Tren itu terlihat semakin jelas sepanjang 2026.
Data terbaru Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan, penjualan mobil listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV) mencatat lonjakan signifikan. Pada April 2026 saja, distribusi mobil listrik ke dealer mencapai 14.815 unit. Angka tersebut berkontribusi sekitar 18,34 persen dari total penjualan mobil nasional yang mencapai 80.776 unit.
Baca Juga: Persiapan Indonesia Sebagai Pemasok Baterai Kendaraan Listrik
Kenaikan ini menjadi salah satu sinyal paling kuat bahwa pasar kendaraan ramah lingkungan di Indonesia sudah memasuki fase pertumbuhan agresif. Setelah sempat melambat akibat momentum libur Lebaran pada Maret, industri otomotif kembali bergairah dengan peningkatan penjualan nasional hingga 31,8 persen pada April.
Mobil Listrik Tak Sekadar Tren
Dalam empat bulan pertama 2026, total distribusi mobil listrik sudah mencapai 47.781 unit. Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu berada di angka 25.231 unit, terjadi pertumbuhan hampir dua kali lipat atau naik 89,4 persen.
Fenomena ini menunjukkan bahwa mobil listrik kini bukan lagi produk alternatif, melainkan mulai menjadi pilihan utama sebagian masyarakat. Ada beberapa faktor yang mendorong percepatan tersebut.

Masuknya berbagai merek baru, terutama produsen asal Tiongkok, membuat pasar semakin kompetitif. Konsumen kini memiliki lebih banyak pilihan dengan harga yang lebih terjangkau, namun tetap dibekali fitur modern seperti teknologi keselamatan aktif, konektivitas digital, hingga kemampuan pengisian daya cepat.
Selain itu, dukungan pemerintah masih menjadi faktor penting. Insentif pajak, kemudahan regulasi, hingga fasilitas bebas ganjil-genap di kota besar seperti Jakarta membuat mobil listrik semakin menarik bagi masyarakat urban.
Jika melihat perkembangan dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan mobil listrik di Indonesia memang sangat mencolok:
2021: 687 unit
2022: 10.327 unit
2023: 17.051 unit
2024: 43.189 unit
2025: 103.931 unit
2026 (Januari-April): 47.781 unit
Kenaikan tersebut memperlihatkan bagaimana transformasi industri otomotif berlangsung sangat cepat.
Hybrid Ikut Tumbuh Stabil
Tidak hanya mobil listrik murni, kendaraan hybrid juga menunjukkan performa positif. Hingga April 2026, distribusi mobil hybrid mencapai 26.339 unit, meningkat sekitar 42,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Walaupun pertumbuhannya tidak secepat mobil listrik murni, hybrid tetap memiliki pasar kuat karena dianggap sebagai solusi transisi. Banyak konsumen masih merasa nyaman menggunakan mesin bensin yang dipadukan motor listrik tanpa harus bergantung penuh pada stasiun pengisian daya.
Perjalanan penjualan mobil hybrid dalam beberapa tahun terakhir juga memperlihatkan tren yang terus naik:
2021: 2.472 unit
2022: 10.344 unit
2023: 54.179 unit
2024: 59.903 unit
2025: 65.943 unit
2026 (Januari-April): 26.339 unit
Segmen ini diperkirakan masih akan tumbuh karena banyak produsen Jepang tetap fokus mengembangkan teknologi hybrid di Indonesia.
PHEV Mulai Dilirik Konsumen
Segmen Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) juga mulai menunjukkan potensi besar. Pada Januari-April 2026, penjualannya mencapai 2.089 unit. Padahal pada periode yang sama tahun sebelumnya hanya 91 unit.

PHEV dianggap menarik karena menawarkan fleksibilitas. Pengguna bisa menikmati mode listrik untuk perjalanan harian, namun tetap memiliki mesin bensin untuk perjalanan jauh tanpa khawatir soal jarak tempuh.
Pertumbuhan segmen ini mulai terlihat sejak beberapa pabrikan menghadirkan model baru dengan harga yang lebih kompetitif.
Data penjualannya dalam beberapa tahun terakhir yaitu:
2021: 46 unit
2022: 10 unit
2023: 128 unit
2024: 136 unit
2025: 5.270 unit
2026 (Januari-April): 2.089 unit
Mobil Konvensional Masih Dominan, Namun Mulai Tertekan
Meski kendaraan elektrifikasi tumbuh pesat, mobil bermesin pembakaran internal atau Internal Combustion Engine (ICE) masih menjadi penguasa pasar otomotif nasional. Namun dominasinya perlahan mulai tertekan
Pada 2019, penjualan mobil ICE non LCGC sempat mencapai 814.641 unit. Namun pada 2025, angkanya turun menjadi 505.857 unit.

Penurunan ini memperlihatkan mulai berubahnya preferensi konsumen. Sebagian pembeli kini mulai beralih ke kendaraan yang lebih hemat energi dan mendapatkan berbagai insentif.
Berikut tren penjualan mobil ICE dalam lima tahun terakhir:
2021: 737.477 unit
2022: 869.153 unit
2023: 729.739 unit
2024: 585.729 unit
2025: 505.857 unit
2026 (Januari-April): 175.758 unit
Nasib Mobil LCGC Makin Terjepit
Segmen Low Cost Green Car (LCGC) yang dulu sempat menjadi tulang punggung penjualan mobil murah di Indonesia juga mulai mengalami tekanan.
Pada 2019, penjualan LCGC masih mampu menembus lebih dari 217 ribu unit. Namun dalam beberapa tahun terakhir, pasarnya terus menurun.
Bahkan selama empat bulan pertama 2026, penjualan LCGC hanya mencapai 37.823 unit atau turun sekitar 25 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Berikut datanya:
2021: 146.520 unit
2022: 158.206 unit
2023: 204.705 unit
2024: 176.766 unit
2025: 122.686 unit
2026 (Januari-April): 37.823 unit
Penurunan ini diduga terjadi karena konsumen kini memiliki lebih banyak pilihan kendaraan elektrifikasi dengan harga yang semakin kompetitif.