Car Density Rendah, Peluang Mengembangkan Industri Otomotif Indonesia Masih Besar

Car Density Rendah, Peluang Mengembangkan Industri Otomotif Indonesia Masih Besar Rasio Car Density Indonesia masih rendah.

Kabaroto.com - Faktor car density menjadi perhatian besar Gaikindo. Pasalnya, berdasarkan data yang ada rasio kendaraan per 1.000 orang di Indonesia masih terbilang kecil. Paling besar di ASEAN adalah Malaysia dengan rasio 405 mobil per 1.000 orang, kemudian Thailand 232 berbanding 1.000.

“Kita ada di urutan ketiga dengan hanya 83 mobil untuk setiap 1.000 penduduk di Indonesia. Keempat ada Filipina yang hanya 30 mobil per 1.000 orang,” kata Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, Sabtu (29/4).

Melihat car density yang masih rendah, berarti masih ada peluang besar untuk terus mengembangkan industri otomotif Tanah Air. Lebih dari itu, kata Kukuh, ini bisa membuat negara lain berminat untuk menandatangani perjanjian per dagangan dengan Indonesia. Tak heran, Toyota pun berkomitmen untuk meningkatkan investasinya di Indonesia.

Lembaga konsultan dan riset, Frost & Sullivan memprediksi pertumbuhan pasar otomotif Indonesia akan berkisar 5% dengan volume 1,11 juta unit. Frost & Sullivan memperkirakan, setidaknya pasar otomotif Indonesia akan mengalami pertumbuhan 3,5% pada 2017, sebagai dasar perhitungan awal.

Wakil Presiden Senior bidang Transportasi Frost & Sullivan, Vivek Vaidya memperhitungkan, setidaknya ada lima faktor penting yang akan memengaruhi keberlangsungan pasar otomotif Indonesia dan berperan sebagai faktor pendorong.

Pertama, belanja pemerintah, terutama dalam pelaksanaan proyek-proyek infrastruktur yang bisa menjadi stimulus bagi pasar kendaraan niaga dan akan menambahkan sekitar 0,5% pertumbuhan pasar otomotif Indonesia.

Kedua, hadirnya beragam model-model baru disertai program-program promosi yang digelar oleh para pemegang merek sepanjang 2017 akan berkontribusi sebesar 0,5% terhadap pertumbuhan pasar otomotif Indonesia.

Ketiga, sentimen positif sebagai wujud kembalinya kepercayaan pasar bakal menambah sekitar 0,5%.

“Ketatnya perhatian pemerintah menjaga kondisi fiskal, sejumlah paket stimulus ekonomi, serta program pengampunan pajak yang menuai pujian, telah membantu mengembalikan kepercayaan pasar,” kata Vaidya.

Keempat, pertumbuhan penanaman modal oleh pihak swasta berkontribusi terhadap 0,5%. Hal itu sekaligus diperkirakan akan menekan angka kredit macet di tingkatan yang masih bisa dikendalikan.

Kelima, pertumbuhan ekspor yang meski tidak terlalu signifikan, namun positif akibat masih belum menentunya harga komoditas, diperkirakan bakal menambah 0,5% pertumbuhan pasar otomotif Indonesia. Dari lima faktor pendorong tersebut dengan persentase 2,5%, bakal terdapat pengurangan sebagai akibat dari kenaikan tarif listrik serta harga bahan bakar yang diperkirakan bakal berdampak turunnya 1% pertumbuhan, sehingga hanya tersisa 1,5% dorongan.

Di sisi lain, terdapat dua faktor lain yang akan berdampak terhadap pasar otomotif Indonesia, yakni pergerakan nilai tukar rupiah serta penempatan harga mobil- mobil yang dipengaruhi antara lain kenaikan tarif administrasi kendaraan.

Vaidya menilai, dua faktor itu saat ini masih belum bisa diperkirakan dampaknya secara angka, sehingga pasar otomotif Indonesia secara keseluruhan akan mengalami pertumbuhan setidaknya 5%. Jika dua faktor tersebut mengalami perubahan signifikan, maka bisa menjadi faktor dorongan atau sebaliknya, hambatan.