KabarOto.com - Mengendarai mobil bertransmisi otomatis memang enak, karena tidak pegal menginjak pedal kopling. Tapi jangan lupa dengan perawatan transmisi otomatisnya ya.
Tentu perawatan paling penting yakni mengganti oli matic, agar sistem perpindahan transmisi tetap halus. Tak diganti ruting, siap-siap kualitas oli menurun dan berkendara jadi tak nyaman.
Dilansir dari laman resmi Toyota, mengganti oli transmisi secara umum dan idealnya dilakukan setiap 40.000-60.000 km. Interval penggantian bisa dibuat lebih singkat tergantung kondisi lalu lintas.
Baca Juga : Harga Mercedes-AMG GT 4-Door EV Resmi Diumumkan, Tembus Rp2,72 Miliar
Interval Pergantian
Misal kerap melintasi jalanan macet atau rute menanjak, maka intervalnya bisa menjadi setiap 30.000 km sekali. Hal ini karena suhu kerja transmisi otomatis di kondisi tersebut cenderung lebih tinggi dan mempercepat degradasi oli.
Selain berpatokan pada jarak tempuh mobil, mengganti oli transmisi matic juga bisa dilakukan jika Anda merasakan tanda-tanda khusus. Misalnya perpindahan gigi tidak halus atau menyentak.
Kemudian kondisi oli sudah gelap dan berbau gosong. Oli yang masih layak pakai akan berwarna merah muda bening. Jika sudah gelap atau bau terbakar, segera ganti.
Baca Juga : MG 4X RWD Meluncur, Harganya Rp240 Juta Bisa Tempuh 699 Km
Bisa juga timbul suara abnormal berupa dengungan saat berkendara, karena pelumasan tak optimal. Serta akselerasi mobil terasa berat, akibat oli transmisi yang sudah kotor.
Jenis Oli Matik
Dan tak kalah penting diingat, perhatian jenis oli matic yang dipakai. Misalnya oli Automatic Transmission Fluid (ATF) untuk mobil dengan transmisi otomatis konvensional.
Dan oli Continuously Variable Transmission Fluid (CVTF), khusus untuk mobil yang menggunakan oli transmisi otomatis CVT. Jangan sampai tertukar, karena juga bisa menyebabkan kerusakan fatal!

