Meikarta Jadi Solusi Pengurangan Beban Lalu Lintas Di Jabodetabek

Meikarta Jadi Solusi Pengurangan Beban Lalu Lintas di Jabodetabek Lokasi Meikarta. Foto: Istimewa

Kabaroto.com - Berbagai kalangan menyambut positif rencana pembangunan kota baru Meikarta oleh Grup Lippo. Meikarta bisa menjadi solusi untuk mengurangi beban kota Jakarta dalam banyak aspek, seperti kepadatan lalu lintas, pergerakan manusia, tata ruang, dan sebagai pusat ekonomi baru.

Pemerintah bahkan bisa merelokasi kementerian/lembaga (K/L) ke Meikarta, menyusul mencuatnya kembali wacana pemindahan ibu kota ke luar Jakarta.

Hal itu diungkapkan Presidium Pusat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Muslich Zainal Asikin, pengamat transportasi Djoko Setijowarno, Kepala Bagian Humas Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Benny Nurdin, dan Koordinator Kemitraan Kota Hijau Nirwono. Mereka dihubungi secara terpisah di Jakarta, Jumat (12/5).

Muslich Zainal Asikin menyambut baik atas rencana pembangunan kota baru Meikarta. Lahirnya kota baru tersebut diharapkan mampu mengurangi beban lalu lintas transportasi Jakarta dan sekitarnya.

“Itu bagus sekali kota baru. Jadi ada sebagian kegiatan yang dialihkan dari Jakarta ke kota tersebut. Artinya nanti orang tidak akan bolak-balik menempuh jarak terlalu jauh karena di sana sudah lengkap fasilitasnya,” jelas Muslich.

Selain itu, dia menambahkan, letak Meikarta yang dikelilingi pusat-pusat industri dan dekat dengan Pelabuhan Patimban juga bisa menjadi momentum pemindahan pergerakan truk yang semula aksesnya ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, untuk dialihkan ke Pelabuhan Patimban.

“Kota baru itu pasti akan menurunkan beban Jabodetabek. Sudah saatnya Jakarta ditarik, seperti ke timur, ke Meikarta ini. Ini konsepnya sudah benar,” jelas Muslich.

Selain Jakarta, Meikarta juga berpotensi mengurangi beban Bandung. Muslich menyebutkan, lalu lintas Kota Bandung saat ini sudah kurang kondusif karena padat. Karena itu, menurut dia, beberapa kantor pemerintahan Jawa Barat juga dapat dialihkan ke Meikarta.

“Hal tersebut bisa semakin didorong karena Meikarta dilewati lintasan rel kereta cepat Jakarta-Bandung,” imbuhnya.

Perlu diketahui, Grup Lippo pekan lalu mengumumkan pembangunan kota modern baru berskala internasional Meikarta dengan investasi Rp278 trilliun. Meikarta bakal menjadi kota raksasa modern dan terlengkap di Asia Tenggara. Dia akan menyerupai Senzhen Tiongkok.

Meikarta berada di Cikarang, jantung ekonomi koridor Jakarta-Bandung. Sekitar 60% ekonomi nasional berada di kawasan Jakarta-Bodetabek-Bandung, dan 80% berada di pusat Bekasi-Cikarang dengan penduduk yang akan mencapai 20 juta dalam kurun waktu 15-20 tahun ke depan.

Meikarta dibangun di area seluas 23 juta meter persegi. Di lokasi ini nantinya akan menjulang 200 ratus gedung pencakar langit 35-46 lantai, tujuh mal, pusat rumah sakit dan kesehatan internasional, pusat keuangan internasional lima hotel internasional berbintang lima, perpustakaan nasional, gedung kesenian, tiga kampus dan belasan sekolah internasional, pusat riset industri, gedung pameran, Indonesian Silicon Valley, hingga beragam pusat-pusat inovasi.

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai, untuk dapat mengurangi beban lalu lintas Jabodetabek, sejumlah kegiatan bisnis swasta dan BUMN serta pemerintahan yang selama ini berpusat di Jakarta harus dipindahkan ke Meikarta.

“Kalau pusat pemerintahan dan bisnis masih banyak di Jakarta, ya kehadiran kota baru ini tidak akan banyak berpengaruh. Makanya sebagian kegiatan itu harus dipindahkan ke Meikarta, termasuk urusan bisnis, BUMN, dan kementerian juga,” terangnya.

Secara terpisah, Kepala Bagian Humas Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Benny Nurdin mengungkapkan, pihaknya sangat mendukung lahirnya kota-kota baru seperti Meikarta. Pasalnya, kota tersebut berpotensi mengurangi beban lalu lintas di Jabodetabek yang sudah sangat padat.

“Kota ini kan nantinya berfasilitas lengkap, baik untuk kebutuhan primer maupun sekundernya. Jadi bisa mengantisipasi pergerakan orang ke luar dari kawasan ini. Pergerakan orang ke Jakarta dapat dikurangi sehingga dengan sendirinya mengurangi beban lalu lintas ke Jakarta,” kata Benny.