Penyebab Pasar EV Tiongkok Mulai Melambat, Penjualan Turun 14 Persen

Selasa, 11 Agustus 2026
Penyebab Pasar EV Tiongkok Mulai Melambat, Penjualan Turun 14 Persen

Ekspor jadi jalan untuk membuka pasar baru bagi produsen EV Tiongkok.

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KabarOto.com - Pasar kendaraan listrik (EV) Tiongkok mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan setelah beberapa tahun mencatat pertumbuhan pesat. Penjualan kendaraan listrik baru di negara tersebut dilaporkan turun 14 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penyebabnya karena kondisi ekonomi dan perubahan kebijakan subsidi, menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi permintaan. Berdasarkan data China Passenger Car Association (CPCA), sebanyak 4,7 juta unit kendaraan listrik telah dikirimkan kepada konsumen sepanjang tahun ini.

Penjualan Naik Turun dalam Waktu Singkat

Meskipun penjualan pada bulan Juli membaik dibandingkan Juni, sejumlah produsen besar masih mencatat performa lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025. Artinya tetap ada penurunan yang terasa tahun ini.

BYD, sebagai salah satu produsen EV terbesar, membukukan penjualan domestik 239.370 unit pada Juli. Angka tersebut meningkat 4,9 persen dibandingkan Juni, tetapi masih turun 9 persen secara tahunan.

Geely juga mencatat kondisi serupa, dengan penjualan naik 4 persen dibandingkan bulan sebelumnya, namun anjlok 29,1 persen dibandingkan Juli tahun lalu. Kedua perusahaan tersebut masih memiliki penopang dari pasar ekspor yang terus berkembang.

Baca Juga : Stellantis SRT Ungkap Mesin eBoost Air, Hilangkan Turbo Lag

Kondisi berbeda dialami sejumlah produsen yang lebih bergantung pada pasar domestik. Xpeng mencatat pengiriman 38.027 unit pada Juli, turun 5,2 persen dibandingkan Juni. Nio mengirimkan 35.934 unit atau merosot 11,5 persen, sedangkan Li Auto membukukan 30.468 unit, turun 1,4 persen dari bulan sebelumnya.

Perlambatan juga dipengaruhi kondisi ekonomi Tiongkok. Produk domestik bruto (PDB) negara tersebut tumbuh 4,3 persen pada kuartal kedua 2026, menjadi pertumbuhan paling lambat sejak akhir 2022. Di sisi lain, pemerintah Tiongkok mengurangi insentif pembelian kendaraan baru.

Subsidi yang sebelumnya mencapai 15.000 yuan kini dipangkas menjadi maksimal 10.000 yuan atau sekitar 10 persen dari harga kendaraan. Untuk model EV berharga lebih terjangkau, pengurangan subsidi dapat mencapai 5.000 yuan.

Persaingan Harga Semakin Kompetitif

Firma konsultan AlixPartners memperkirakan penjualan kendaraan baru di Tiongkok secara keseluruhan dapat turun sekitar 10 persen menjadi 24,6 juta unit hingga akhir 2026. Jika proyeksi tersebut terjadi, maka produsen EV akan menghadapi pasar yang semakin kompetitif dan konsumen yang lebih sensitif terhadap harga.

Baca Juga : Yamaha Y16ZR-R Meluncur di Malaysia, Ohlins Jadi Bawaan Pabrik

Kondisi ini sekaligus mendorong produsen untuk mencari sumber pertumbuhan baru melalui ekspor. Bagi merek seperti BYD dan Geely, pasar luar negeri menjadi semakin penting untuk menjaga momentum ketika permintaan domestik Tiongkok mulai kehilangan tenaga.

Tags:

#Mobil China #Industri Otomotif #Insentif Industri Otomotif
Google
Tambahkan Kabaroto.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang

Bagikan

Berita Terkait

Bagikan