Kalau Jodoh Nggak Kemana, Cerita Dibalik Toyota Corona RT100 1976

Kalau Jodoh Nggak Kemana, Cerita Dibalik Toyota Corona RT100 1976 Toyota Corona RT100 1976 (Foto: Dika Side.id)

KabarOto.com - Mengulas mobil-mobil antik milik Bei Budiyono memang tidak ada habisnya. Bahkan sebagian besar mobil klasiknya memiliki cerita dan kenangan sendiri-sendiri. Salah satunya Toyota Corona RT100 1976.

Mobil ini termasuk salah satu mobil kesayangannya, namun pernah ia berikan pada sahabatnya karena kala itu dengan sangat terpaksa Pakde Bei, sapaan akrabnya, harus melakukannya. Selama berbincang dengan Pakde Bei sering sekali beliau mengatakan sebuah pepatah, "Kalau jodoh nggak kemana."

Baca Juga: Begini Cara Merawat Mobil Klasik Nan Antik

"Tuhan itu Maha Baik, saya kena stroke kan saya jualin. Setelah stroke, setelah saya mulai baik ini mobil balik satu per satu. Salah satunya Corona merah itu balik. Jadi yang merah ini saya kena stroke dokter Pekalongan telepon saya, 'Pakde saya rawat (mobilnya)' 'Silahkan dok, kebetulan saya perlu duit'. Puasa tahun kemarin menghubungi lagi, 'Pakde kalau mau diambil lagi (mobilnya)''Oh iya saya ambil'. Jadi hidup yang paling enak itu yang pas, pas ada orang balikin duit pas saya megang duit," cerita Pakde.

Pepatah inilah yang membayanginya tentang Toyota Corona miliknya. Pasalnya, selang beberapa tahun mobil kesayangannya itu kembali lagi padanya. Sebagai pecinta dan penikmat mobil klasik, Pakde Bei sangat merawat mobil-mobilnya yang berjumlah puluhan itu.

Pada jaman kejayaannya, mobil ini sempat menjadi primadona. Bahkan sampai saat ini tidak sedikit orang yang masih menggunakan mobil ini untuk sehari-hari atau sekedar mengoleksi. Nah, Toyota Corona tahun 1976 ini memiliki desain klasik yang cantik.

Mobil ini menampilkan bentuk serta visual yang mewah dan elegan. Dimulai pada bagian depan, Corona RT100 dipasangi gril bergaris vertikal. Diapit oleh masing-masing dua balok lampu pada sisi kanan-kirinya. Uniknya gril mobil milik Pakde Bei dipasangi 2 hiasan di samping logo asli, yaitu Indonesia dan Corona.

Terlihat dari bodinya yang memiliki lekukan-lekukan tegas, dihias dengan listing krom pada sisi-sisinya. Seperti satu garis penuh dari depan hingga belakang, dan bingkai jendela. Sedangkan spionnya tidak berada di samping jendela seperti mobil kebanyakan. Toyota Corona RT100 meletakkannya di sisi kap mobil.

Nah, pada interior mobil ini terlihat akan didominasi dengan warna hitam. Mulai dari setir, dasbor, hingga jok. Tak terkecuali instrumen hiburan yang disematkan. Tidak terlalu ada yang mencolok dari bagian interiornya, karena Pakde Bei membuat Corona RT100 miliknya sesuai dengan keluaran pabrik.

Baca Juga: Cerita Menarik Di Balik Citroen Dyane 6

"Mengembalikan pada jamannya sesuai, harus sesuai. Jadi nggak mungkin mobil tahun 70-an pakai CD, nggak mungkin. Tapi mobil 70-an harus pakai radio, iya radio orisinilnya," jelas Pakde.

Corona RT100 menggunakan setir three-spoke dengan tombol klakson pada setiap jarinya. Dibalut dengan ukiran tambang yang unik. Selain itu, spidometer dan lainnya yang berada di instrumen cluster terlihat tidak biasa dengan bentuknya yang kotak. Kebanyakan mobil menggunakan bentuk bulat untuk bagian ini.

Mobil keluaran tahun 1976 ini juga cukup bertenaga dengan disematkan mesin berkapasitas 1600 cc dan transmisi 5-percepetan. Dan menggunakan pelek asli yang berukuran 13 inci. Uniknya lagi, setiap pelek mobil Pakde Bei selalu diberi baling-baling sebagai pembeda.