Canggihnya Fitur Cruise Control, Bermanfaatkah Di Indonesia?

Canggihnya Fitur Cruise Control, Bermanfaatkah di Indonesia? Mazda 3 Sedan (Foto: Deni/KO)

KabarOto.com - Beberapa kendaraan bermotor baik roda empat maupun roda dua kini sudah dibekali dengan fitur cruise control. Fitur ini terbilang cukup bermanfaat jika dilihat dari segi pengaplikasiannya.

Pengemudi tidak perlu menginjak pedal gas secara terus-menerus apabila sudah mengaktifkan cruise control, karena kendaraan akan secara otomatis melaju dalam kecepatan tetap. Namun, perlu Sobat KabarOto ketahui bahwa fitur ini akan aktif pada kecepatan 60 kpj keatas.

Baca Juga: Profil - Audi Q8

Menurut UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dijelaskan kecepatan maksimum dalam kota adalah 50 kpj. Peraturan ini harus ditaati karena berkaitan dengan keselamatan berkendara dan pengguna jalan lainnya.

"Jadi dengan jelas bahwasanya kecepatan fitur ini hanya bisa diaplikasikan pada lintasan luar kota dan highway atau tol," jelas Jusri Pulubuhu selaku Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC)

Penggunaan cruise control sangat nyaman jika melintasi jalanan yang trafficnya tidak padat. Tapi, bagaimana dengan jalanan di Indonesia? Sayangnya, Jusri Pulubuhu mengatakan fitur ini kurang berguna apabila digunakan di jalanan yang padat dan tidak tertib.

Baca Juga: Profil - All New Toyota Corolla Altis

Sementara jalanan di Indonesia khususnya Ibu Kota sudah tidak asing dengan lalu lintas padat merayap hingga macet. Ditambah, tidak sedikit pengendara yang melintas tanpa menghiraukan peraturan yang ada, misalnya menerobos traffic light, melaju dengan kecepatan yang tidak seharusnya atau berada di lajur yang salah.

"Fitur ini akan jadi mubazir walaupun digunakan pada situasi jalan highway berupa tol. Fitur-fitur tersebut tidak akan berfungsi maksimal bilamana kondisi traffic padat dan tidak disiplin," tambah Jusri.

Jusri menambahkan, jika penggunaan fitur ini dipaksakan akan sulit dan tidak aman karena budaya kepatuhan pengguna jalan yang kurang di Indonesia terhadap penggunaan lajur.

"Ada truk masuk ke lajur cepat, ada juga yang lajur cepat masuk ke bahu jalan. Akibatnya, ini membuat kecepatan konstan tidak bisa dilakukan," tutup Jusri.