Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

Kebijakan Insentif Kendaraan Listrik Masih Belum Jelas, Tiga Simulasi ini Bisa Jadi Solusi

Rabu, 11 Februari 2026
Kebijakan Insentif Kendaraan Listrik Masih Belum Jelas, Tiga Simulasi ini Bisa Jadi Solusi

Ilustrasi mobil listrik BYD Atto 1 (Foto: Kabaroto)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KabarOto.com - Kebijakan insentif kendaraan listrik di Indonesia belum juga mendapat kejelasan. Ada Tiga simulasi yang dapat dipertimbangkan.

Menurut Pengamat Ekonomi, Josua Pardede ada tiga simulasi kebijakan yang bisa diambil pemerintah, dengan opsi ketiga disebut sebagai solusi paling rasional dan berimbang.

Simulasi pertama, insentif kendaraan listrik dihentikan sepenuhnya tanpa adanya perpanjangan atau skema pengganti, di mana skema ini diprediksi bisa langsung memicu kenaikan harga mobil listrik di pasar.

"Kenaikan harga itu pada akhirnya akan berdampak ke penjualan BEV itu sendiri," jelas Josua, Selasa (10/2/2026).

Baca Juga: Aki Khusus Mobil Listrik Dipasarkan di Indonesia, Harga Rp1 Jutaan

Mobil listrik Wuling dapat insentif kendaraan listrik tahun lalu

Tiga Simulasi Insentif Mobil Listrik

Lebih lanjut, jika insentif mobil listrik tidak ada tahun ini, konsumen akan berpikir ulang untuk membeli unit, karena perbedaan harga dengan mobil ICE akan jauh.

Hal tersebut juga akan berdampak pada penjualan mobil secara nasional secara keseluruhan di sepanjang tahun 2026.

Simulasi kedua adalah perpanjangan seluruh insentif kendaraan listrik. Dalam skenario ini, tekanan terhadap penjualan otomotif dinilai bisa diredam.

Tapi, peluang realisasi opsi ini terbilang kecil. Musabab, pemerintah tetap harus mempertimbangkan kondisi fiskal.

Berdasarkan realisasi APBN tahun lalu, defisit tercatat berada di kisaran 3 persen terhadap produk Domestik Bruto (PDM).

Baca Juga: Smart #2 Mobil Listrik Mini Kolaborasi Geely dan Mercedes-Benz Siap Masuk Pasar Global

Insentif Paling Masuk Akal

Dari sudut pandang fiskal, Kementerian Keuangan disebut masih akan mengkaji efektivitas insentif, termasuk dampaknya terhadap perekonomian riil.

Ruang fiskal tahun ini pun dinilai cukup terbatas, sementara target penerimaan pajak dalam APBN 2026 sebesar 13 persen.

Opsi simulasi ketiga adalah insentif kendaraan listrik tetap diberikan, tapi bersifat terbatas dan bersyarat. Kebijakan ini dibilang paling masuk akal.

Contohnya, insentif hanya ditujukan untuk konsumen pembelian mobil pertama, atau diberikan kepada produsen yang telah memenuhi persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

"Jadi yang kami lihat secara umum, simulasi ketiga ini menjadi win-win solution," tutup Josua.

Tags:

#Insentif Mobil Listrik 2026 #Insentif Mobil Listrik #Insentif Kendaraan Listrik
Google
Tambahkan Kabaroto.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang

Bagikan

Berita Terkait

Bagikan