Transisi Kendaraan Elektrifikasi Toyota, Dari Sistem ICE Menuju FCEV

Transisi Kendaraan Elektrifikasi Toyota, dari Sistem ICE Menuju FCEV Toyota C+Pod di xEV Center (Foto: Sigit/Kabaroto)

KabarOto.com - Toyota berkomitmen untuk keberlangsungan kendaraan elektrifikasi di Indonesia. Di mana, pada bulan Mei 2022, Toyota dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) meresmikan fasilitas pembelajaran dan pengembangan kendaraan listrik.

Fasilitas bernama xEV center itu merupakan tempat pembelajaran dan pengembangan kapabilitas elektrifikasi, serta energi hijau milik PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).

Dalam masa transisi menuju kendaraan elektrifikasi, Toyota pun menjelaskan beberapa jenis kendaraan yang akan melewati proses, untuk mewujudkan kendaraan ramah lingkungan.

Kendaraan ICE, Toyota Kijang Innova

Jenis kendaraan yang dimaksud adalah kendaraan Internal Combustion Engine (ICE), HEV (Hybrid Electric Vehicle), PHEV (Plug-in Hybrid Vehicle), BEV (Battery Electric Vehicle), dan FCEV (Fuel Cell Electric Vehicle).

Baca Juga : Berkunjung Ke XEV Center Milik Toyota, Simak Yuk Ada Apa Saja

Kendaraan jenis ICE adalah mobil yang saat ini banyak digunakan masyarakat Indonesia. Pada umumnya mobil jenis ini menggunakan bahan bakar bensin. Sistem penggeraknya mengandalkan mesin dan transmisi.

Contoh dari kendaraan ini adalah Toyota Kijang Innova, Toyota Fortuner dan Toyota Raize. Emisi CO2 mencapai 100 persen.

Transisi yang pertama adalah kendaraan HEV (Hybrid Electric Vehicle). Pada umumnya penggerak hybrid ini menggunakan mesin bensin untuk menghasilkan listrik dan menggunakan motor listrik/generator untuk menggerakan roda.

Mobil hybrid Toyota Prius

Kendaraan hybrid tidak hanya menggunakan mesin bensin untuk menjalankannya, tetapi juga motor/generator listrik. Saat mengemudi dalam keadaan EV, kendaraan hybrid tidak menggunakan bensin, energi itu digunakan kembali untuk menyalakan motor listrik.

Mode EV hingga 50 persen untuk berkendara dan emisi CO2 berkurang hingga 30 hingga 50 persen. Contoh kendaraan hybrid adalah Toyota Prius dan Corolla Cross.

Baca Juga : Berapa Lama Charge Baterai Ponsel Di All New Toyota Voxy? Yuk, Kita Coba

Transisi kedua adalah Plug-in Hybrid Vehicle (PHEV), yang merupakan turunan kendaraan hybrid. Secara sistem operasi sebenarnya sama saja dengan mobil hybrid. Namun yang membedakan adalah tambahan kapasitas baterainya.

Toyota RAV4

Bila daya mobil hybrid hanya dipasok dari mesin maupun energi kinetik, maka khusus PHEV, bisa ditambah dengan cara dicolokkan ke sumber listrik (plug-in).

Lewat cara ini ketergantungan bahan bakar bisa lebih ditekan. Karena sistem suplai plug-in tadi, memungkinkan penggunanya hanya mengandalkan daya listrik di mobilnya.

Kapasitas baterai juga lebih besar dari mobil hybrid, bisa mencapai 8 hingga 13 kWh. Dengan hanya mengandalkan modus EV, kita bisa berkendara selama 55 kilometer.

Toyota C+Pod

Contoh kendaraannya adalah Toyota Prius Prime dan RAV4.

Baca Juga : Impresi Berkendara Singkat Toyota C+pod Di Toyota XEV Center

Transisi ketiga adalah Battery Electric Vehicle (BEV), alias kendaraan listrik murni tanpa mesin pembakaran internal. Sebagai sistem penggerak, mobil hanya mengandalkan motor listrik dan baterai, yang dayanya diisi dengan metode plug-in (seperti PHEV).

Sayangnya fasilitas untuk mengisi daya ulang baterai BEV di tempat umum masih terbatas. Tak seperti Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang mudah ditemukan.

Contoh kendaraannya adalah Toyota bZ4X, C+Pod dan UX 300e.

Toyota Mirai

Transisi terakhir adalah FCEV (Fuel Cell Electric Vehicle), yang pada umumnya mobil ini menggunakan Fuel-cell untuk menghasilkan listrik.

Prinsip kerja dari FCEV hampir sama dengan BEV, yang membedakan adalah mobil jenis ini memiliki sistem yang mengkonversi energi kimia pada fuel-cell menjadi energi listrik. Jadi mobil dengan tipe ini menghasilkan listrik sendiri untuk menjalankan kendaraan.

Contoh kendaraannya adalah Toyota Mirai.