Ekspor Otomotif Nasional Bergejolak, Toyota Bidik Amerika Tengah

Ekspor Otomotif Nasional Bergejolak, Toyota Bidik Amerika Tengah

KabarOto.com - Pertumbuhan ekspor khususnya dalam industri otomotif mengalami penurunan. Salah satunya dampak dari adanya tendensi proteksionisme di beberapa negara yang mulai dianut. Tak terkecuali Toyota, merek asal Jepang ini juga mengalami penurunan angka dalam volume ekspornya.

Seperti volume ekspor kendaraan utuh atau Completely Built Up (CBU) dari merek ini, pada bulan Januari hingga April 2019 tercatat mereka dapat mengekspor sebanyak 61.600 unit. Namun pada periode yang di tahun sebelumnya, Toyota mampu mengekspor lebih dari angka tersebut yaitu 65.700 unit.

Baca Juga: Toyota Kuasai 32% Pasar Otomotif Di Indonesia Sepanjang Kuartal I 2019

Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan ekspor, dimana turun sebanyak 6%. Beberapa penyebab menurunnya angka disebabkan kondisi perekonomian negara destinasi atau tujuan ekspor. Yaitu kawasan Timur Tengah dan Filipina.

"Naik turunnya kondisi perekonomian di sebuah Negara tujuan ekspor, merupakan hal di luar kontrol atau kendali kita dan tidak terhindarkan. Namun demikian, hal-hal seperti ini tentu telah kami perhitungan dalam manajemen resiko," ungkap Bob Azam selaku Direktur Administrasi, Korporasi dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).

Baca Juga: Ini Layanan Auto2000 Untuk Pemilik Toyota Sepanjang Musim Mudik 2019

Walau menurun, dari total volume ekspor CBU Toyota, kendaraan SUV Fortuner masih menjadi kontributor terbesar. Total sebanyak 14.400 unit telah diekspor, angka ini menunjukkan 23% dari total volume ekspor. Kemudian disusul Rush yang mampu mengekspor sebanyak 12.600 unit atau 20%.

Pada posisi ketiga masih dipegang oleh Agya dengan volume 10.800 unit atau 18%. Sementara itu untuk model lainnya yang masih cukup banyak diekspor, namun tidak mencapai angka 10.000 unit. Seperti Avanza sebanyak 8.400 unit dan Vios 7.500 unit. Untuk Kijang Innova, Sienta, Yaris, dan Lite Ace dengan total volume 7.900 unit.

"Belum ada koreksi terhadap target ekspor. Kami masih optimis target pertumbuhan di atas 5% dapat tercapai. Mulai pertengahan tahun, akan ada ekspansi ekspor ke beberapa negara tujuan baru di kawasan Amerika Tengah. Ditambah adanya permintaan fleet order dari negara-negara Timur Tengah, diharapkan bisa membantu tercapainya target yang ditetapkan," jelas Bob Azam.

Baca Juga: Toyota Hadirkan Posko Di Beberapa Jalur Mudik

Penambahan negara tujuan baru di kawasan Amerika Tengah pun bukan proses yang mudah dan singkat. Divisi terkait di TMMIN sudah melakukan studi pasar, termasuk peraturan regulasi di negara kandidat tujuan ekspor sejak 2018 lalu.

Sedangkan November 2018, TMMIN mengundang para distributor kandidat negara tujuan ekspor baru ke Indonesia. Hal ini dilakukan untuk melihat proses produksi di pabrik Karawang, serta diskusi terkait berbagai hal. Seperti tren pasar dan karakteristik konsumen di negara tersebut.

Baca Juga: Mau Servis Mobil Toyota Buat Mudik, Tapi Gak Sempat Ke Bengkel? Panggil THS Aja!

Setelah seluruh proses studi selesai, TMMIN kemudian mengusulkan potensi perluasan ekspor ini ke pihak prinsipal untuk mendapatkan persetujuan.

"Persaingan yang semakin sengit, ditambah kondisi ekonomi global yang kurang stabil, membuat kami harus semakin proaktif dalam meningkatkan performa ekspor. Tidak hanya menunggu order dari prinsipal. TMMIN membuat divisi khusus yang bertugas mencari pasar-pasar tujuan ekspor baru sebagai upaya dalam menjawab tantangan tersebut," tutup Bob Azam.