Jepang Lebih Pragmatis Dibanding AS Terhadap Teknologi Otonom

Jepang Lebih Pragmatis Dibanding AS Terhadap Teknologi Otonom Jepang Lebih Pragmatis Dibanding AS Terhadap Teknologi Otonom (Carscoops)

KabarOto.com - Pada saat ini para pabrikan mobil dan perusahaan teknologi Amerika Serikat (AS) sedang berlomba-lomba untuk menghadirkan teknologi otonom ke jalan secepat mungkin, namun hal ini sangat berbeda dengan Jepang.

Apabila Amerika berusaha memperlihatkan setiap detail dari program self driving-nya, sedangkan Jepang menyimpan rapat-rapat kartu mereka.

Hal ini bukan berarti teknologi Jepang tertinggal di belakang, melainkan karena perusahaan mereka mengadopsi strategi go-to-market, menurut Forbes.

Menurut salah satu pendiri perusahaan AI Preferred Networks, Daisuke Okanohara, pengujian teknologi otonom di jalan raya yang biasa dilakukan di AS, sama halnya dengan pemasaran dan pengembangan teknologi.

(Baca Juga : Mercedes-AMG Siap Tinggalkan Mesin V12)

"Saya pikir tidak ada perbedaan yang signifikan antara pengembangan mobil otonom yang dilakukan Jepang dan AS, tetapi masing-masing memiliki sikap yang berbeda terhadap cara mewujudkan pandangan mereka," kata Okanohara dilansir Carscoops, Senin (9/4).

"Sebagai contoh, di Jepang kami memiliki populasi yang cepat menua. Banyak orang tua bergantung pada mobil untuk transportasi, dan kami melihat peningkatan jumlah kecelakaan lalu lintas yang tragesi disebabkan oleh pengemudi lansia," ungkapnya.

Sistem Otonom pada mobil di Amerika (Carscoops)

"Hal ini menjadi dasar dari permintaan untuk kendaraan otonom dan sistem bantuan sopir canggih (advanced driver assistance systems/ADAS) dan oleh perusahaan Jepang dianggap sangat penting mengutamakan keamanan dan keandalan," jelas Okanohara.

Sementara AS memiliki undang-undang pengujian on-road yang lebih luwes, karena para pabrikan AS menargetkan pada konsumen lebih muda, terutama mereka yang peduli dengan inovasi.

Dan perbedaan lainnya, banyak orang di AS percaya bahwa adopsi teknologi otonom secara luas akan datang melalui armada taksi tanpa sopir, sedangkan Jepang memiliki prioritas lain.

"Taksi otonom akan mendapat banyak perhatian, tetapi mereka tidak praktis untuk sementara waktu. Penggunaan komersial pertama yang akan kita lihat terjadi pada layanan bus otonom di daerah pedesaan," kata Yuki Saji, kepala eksekutif anak perusahaan Softless.