Indonesia Bisa Jadi Pemain Besar Kendaraan Listrik, Kementerian ESDM Beberkan Caranya

Indonesia Bisa Jadi Pemain Besar Kendaraan Listrik, Kementerian ESDM Beberkan Caranya Mobil listrik dan charging station terus dikembangkan Indonesia (Foto: Hyundai)

KabarOto.com - Sumber daya alam Indonesia yang melimpah, membuat negara ini diklaim bisa menghasilkan mobil listrik. Karena Niekel yang menjadi bahan pembuatan baterai kendaraan listrik, melimpah ruah.

Dengan begitu, Indonesia diramalkan bakal menjadi pemain besar untuk kendaraan listrik dunia. Indonesia juga bisa menjadi terkuat di ASEAN mengalahkan Thailand yang menjadi salah satu negara dengan penjualan dan produksinya cukup besar.

Baca Juga: MG Rilis Teaser Calon Mobil Listrik Baru, Meluncur Akhir Tahun 2022

Lalu bisakah Indoonesia memproduksi mobil listrik sendiri? karena dengan membuat kendaraan listrik, bisa mempercepat program pemerintah untuk masuk ke dalam era elektrifikasi, menggunakan kendaraan listrik, menggantikan konvensional.

Dalam kesempatan diskusi secara virtual, Staf Khusus Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Agus Tjahjana Wirakusumah yakin hal itu bisa terjadi. Namun, menurutnya harus ada komitmen jangka panjang dari semua pihak.

Vinfast, mobil listrik buatan Vietnam (Foto: Istimewa)

Meski Indonesia memiliki cadangan nikel besar, tidak cukup bila pemerintah saja yang bergerak. Dia memberikan contoh, di Vietnam, mobil listrik dengan brand Vinfast penggeraknya justru dari pihak swasta.

"Vinfast oleh salah satu konglomerat yang memiliki kemampuan untuk itu, dan berani membenamkan sekitar Rp 40 triliun di program tersebut," terangnya, Kamis (24/02/2022). Setelah itu yang lainnya pun mendukung.

Menurutnya, industri kendaraan listrik bisnis cukup besar. Untuk membuat mobil ramah lingkungan ini tidak hanya memproduksi 10 sampai 20 unit saja, melainkan ratusan. Belum lagi bagian-bagian lainnya yang berkaitan seperti produksi baterai dan biaya riset dan pengembangan (RnD).

Tak hanya itu, yang harus diperhatikan adalah infrastruktur di seluruh wilayah yang menjadi target pasar utama. "Dari sisi assembling, rata-rata itu 500 unit paling kecil," jelasnya.

Kemudian ia menambahkan, jumlah tersebut dikali dengan ratusan juta. "Kalau tidak laku bagaimana? Itu harus dipikirkan bersama, jadi harus ada andil dari seluruh pihak," terang Agus kepada peserta diskusi.

Baca Juga: Kia Jalin Kemitraan Dengan Electrify America Untuk Pengisian Daya Mobil Listrik

Lalu alasan swasta yang menggarap kendaraan listrik, karena perusahaan tersebut masa jabatan pemimpinnya panjang, tidak seperti BUMN yang misalkan hanya 2 sampai 3 tahun menjabat sudah diganti. "Menurut saya, kalau BUMN yang bergerak tidak akan cepat," tambahnya. Jika ada konglomerat di Indonesia yang bersedia mengambil kesempatan itu, harus didukung.